Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Januari 2011

DIKLAT GURU MATEMATIKA TK. MA Se BALI, NTB, NTT

DIKLAT GURU MATA PELAJARAN MATEMATIKA MA TK. DASAR SE BALI, NTB,NTT
( DENPASAR, 21 s/d 30 Januari 2011)



A. Latar Belakang
Dalam Keputusan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 2003 tentang Pedoman Diklat Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Departemen Agama, bahwa Balai Diklat keagamaan adalah unit pelasana teknis Diklat KEMENAG yang berkedudukan di daerah dan mempunyai tugas melaksanakan Diklat Prajabatan dan Diklat dalam jabatan bagi pegawai di wilayah masing-masing.
Salah satu kegiatan diklat yang menjadi agenda Balai Diklat Keagamaan Denpasar pada tahun 2011 adalah Diklat Guru Mata Pelajaran Matematika MA berjenjang Tk. Dasar. Diklat ini dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan Guru Mata Pelajaran Matematika MA di jajaran Kanwil Kementrian Agama Prov. Bali.
B. Tujuan
Diklat Guru Mata Pelajaran Matematika MA berjenjang Tk. Dasar bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan pengetahuan, ketrampilan, kecakapan dan wawasan tugas para guru Mata Pelajaran Matematika di jajaran Kanwil kementriassn Agama Prov. Bali, NTB, dan NTT.
C. Materi Dan mata Diklat
Panduan ini memuat 3 Kelompok mata diklat :
A. Kelompok Dasar meliputi :
1. UUD 1945, Tap MPR RI, dan Keputusan MPR RI
2. Kebijakan Diklat Pegawai di Lingkungan PNS
3. Pembinaan mental dan etika PNS

B. Kelompok Inti
1. Standar Nasional Pendidikan
2. Standar Kompetensi Guru dan Pengembangan Profesi Guru
3. Konsep dasar dan Penyusunan KTSP
4. Konsep Pembelajaran dan pemetaan Materi mata pelajaran Matematika

5. Pengembangan Silabus dan penyusunan RPP
6. Pendidikan Budaya dan Barakter Bangsa
7. Penilaian Pembelajaran
8. Model-model Pembelajaran
9. Pemanfaatan media dan sumber belajar
10. Paedagogik
11. Analisis kasus Pembelajaran
12. Pendidikan Nilai- Nilai kewirausahaan

C. Kelompok Penunjang ;
1. Pengarahan
2. BLC ( Building Tearning Commitment)
3. Study Lapangan
4. Micro Teaching
5. Test

III. Peserta Diklat
Peserta adalah guru Mata Pelajaran Matematika MA di jajaran Wilayah Bali, NTB, NTT, dengan jumlah 30 orang

Kamis, 16 Desember 2010

JALAN TOL MENUJU ANAK JENIUS

JALAN TOL MENUJU ANAK JENIUS
( METODE AKTIVASI OTAK TENGAH )
Oleh : Imron Wahid W, S.Pd *


Latar belakang penulisan artikel ini adalah adanya keinginan anak pertama yang berusia 10 tahun untuk ikut training kecerdasan. Penulis merasa penasaran, "kenapa anak saya ingin sekali ikut program ini?". Setelah mencari dari berbagai sumber, baik dari buku dan internet, akhirnya penulis mendapat banyak informasi tentang program training "aktivasi otak tengah". Setelah penulis yakin bahwa program ini baik untuk perkembangan kecerdasan anak, maka penulis mengabulkan permintaan anak untuk ikut program yang menghebohkan ini.
Program Training aktivasi otak tengah termasuk fenomena baru di Indonesia. Kurang lebih enam bulan yang lalu, aktivasi otak tengah untuk anak usia lima hingga lima belas tahun mulai meramaikan pelatihan edukasi dan perkembangan kecerdasan anak. Program ini mengklaim mampu meningkatkan kemampuan anak setelah ikut pelatihan aktivasi otak tengahnya. Menurut situs otaktengah.com, seorang anak yang sudah diaktivasi otak tengahnya, akan mengalami peningkatan kemampuan memori, kreasi, mental aritmatika dan lain sebagainya. Inikah jalan tol dalam upaya menjadikan anak Anda jenius dan "luar biasa"?
Kegiatan pelatihan otak tengah ini sebenarnya sudah lama dilakukan oleh negeri tetangga, yaitu Malaysia. Di negeri jiran itu program aktivasi otak tengah sudah dikenal sekitar lima tahun lalu dan mendapat dukungan dari pemerintahannya. Sementara di Jepang, sudah lebih dari 40 tahun silam. Kegiatan aktivasi otak tengah mereka telah teruji dan terbukti. Namun mereka tidak mau membuka rahasia teknik aktivasi ini ke publik di luar Jepang.
Otak tengah sudah lama masuk ranah penelitian medis kedokteran. Penelitian otak tengah berhubungan dengan frekuensi gelombang otak ( alpha hinga tetha ) yang dikenal bisa mengkondisikan tubuh manusia menjadik rileks dan nyaman. Sesuai penamaan, otak tengah terletak di posisi tengah di antara otak kiri dan kanan. Otak tengah mendominasi perkembangan otak secara keseluruhan. Bahkan, bayi dalam kandungan diduga dapat melihat keluar rahim ibunya lewat perantara otak tengah. Kedekatan dan keterikatan dengan sang ibu memberi banyak pengalaman sehingga nantinya terbentuk rasa aman dan percaya diri pada anak, sehingga membuat konsentrasi anak terfokus pada potensinya. (Sri Rizayanti, Profesi,2009).








PEMBEDAAN OTAK KIRI DAN OTAK KANAN
Pembedaan fungsi otak kanan dan kiri sudah umum kita kenal. Fungsi otak kiri dikenal berperan pada logika (analisa), kemampuan berbahasa, dan kemampuan menghitung. Otak kiri bertanggung jawab terhadap IQ seseorang. Seseorang yang fungsi otak kirinya lebih dominan akan mempunyai kecenderungan lebih egois, mementingkan diri sendiri, sombong dan lain sebagainya. Sedangkan otak kanan bertanggung jawab pada daya kreasi, intuisi, seni dan lainnya. Otak kanan bertanggung jawab terhadap emosi (EQ). Seseorang yang otak kanannya lebih dominan akan mempunyai kecenderungan lebih berperasaan, kurang kemampuan manajerial. Pendidikan saat ini masih lebih mengutamakan fungsi otak kiri, sehingga mengakibatkan banyak orang tidak percaya pada indera intuisi, prediksi dan kreasi, yang merupakan gejala umum dimana otak kanan tertekan oleh otak kiri. Dalam buku Dasyatnya Otak Tengah karya Hartono Sangkanparan menyebutkan, bila otak tengah telah diaktifkan, daya konsentrasi akan meningkat, kemampuan fisik dalam olahraga akan berkembang, otak kanan dan kiri lebih seimbang, ada keseimbangan hormon. Terkait mental anak, manfaat secara umum otak tengah, anak yang hiperaktif bisa duduk dengan tenang. Anak yang diam menjadi lebih aktif. Hanya, mengapa otak tengah tidak diaktifkan saat usia 0 hingga 5 tahun atau di atas usia 15 tahun, tidak dijelaskan secara rinci. Hartono (penulis buku ini) mengatakan bahwa sangat mungkin setelah usia 15 tahun, otak tengah akan sulit diaktifkan.
. Dengan berfungsinya otak tengah (midbrain) sebagai jembatan penghubung antara otak kanan dan otak kiri, maka kemampuan prediksi, daya ingat, daya seni dan kemampuan reflek akan mengalami keseimbangan yang optimal. Orang seperti ini akan lebih memiliki rasa cinta kasih, karakter anak menjadi lebih baik terutama terhadap orang tua maupun terhadap sesama.



BAGAIMANAKAH MIDBRAIN DIAKTIFKAN ?
Di saat ini terdapat berbagai metode dalam mengaktifkan midbrain (otak tengah); masing-masing metode memiliki hasil yang berbeda-beda. Adalah Genius Mind Consultancy (GMC) yang memulai memperkenalkan metode ini di Jawa Timur. Lembaga ini memperoleh lisensi dari penemu aktivasi otak tengah Tom Haar dari Malaysia. Di Surabaya, lisensi dipegang tiga orang, yaitu Hermanto, dr Al Aufi dan Nur Bathias. GMC melakukan training dengan HI-Technology, pola bermain, audiovisual dan lain sebagainya. Metode yang digunakan GMC memiliki tingkat keberhasilan mencapai 80 – 90 % dalam mengaktifkan otak tengah. Metode yang diajarkan selama mengikuti training GMC adalah motivasi, senam otak, mind mapping, melatih konsentrasi dan daya ingat, melatih kecepatan membaca, membaca dengan mata tertutup (Blinfold Reading Method/B) . Oleh karenanya BR adalah cara untuk membuktikan kepada orang tua bahwa "otak tengah" anak telah diaktifkan.

PERAN ORANG TUA DALAM AKTIVASI MIDBRAIN
Apabila ingin membantu anak mengembangkan fungsi midrain, maka peranan orang tua tidak boleh diabaikan. Midbrain memerlukan perasaan aman dan bahagia, tidak ada perasaan tertekan, takut sebagai landasan kepercayaan diri dalam mengaktifkan otak tengahnya. Perasaan aman dan percaya diri dalam diri anak berasal dari perlakuan ayah dan ibunya. Ada dua hal yang perlu diperhatikan orang tua dalam membantu mengembangkan fungsi midbrain anak. Pertama, dari segi bahasa, ayah dan ibu menentukan kata-kata anak; hasil yang dicapai juga jauh lebih efektif daripada banyak perkataan yang diucapkan oleh orang lain. Oleh karenanya, ayah dan ibu harus memprioritaskan belajar perkataan yang terpuji dan pasti. Kedua, orang tua perlu menyisihkan waktunya sedikitnya 20 – 30 hari untuk membantu anak berlatih. Setiap hari hanya memerlukan latihan selama 15 – 30 menit. Banyak orangvtua yang beranggapan karena kesibukan kerja, akhirnya tidak memiliki waktu untuk mendampingi anak berlatih. Tetapi, bila dihitung anak saling berhubungan dengan orang tuanya seumur hidup misalnya hingga usia 18 tahun, maka 30 hari hanyalah 0,45% dari seluruh waktu tersebut. Bila dalam 30 hari tersebut dapat membuat anak seumur hidup memperoleh manfaat, mengapa tidak bersedia meluangkannya?. Apalagi dalam satu hari hanyalah memerlukan waktu yang pendek, yaitu sekitar 15 – 30 menit saja.

LANGKAH-LANGKAH AKTIVASI MIDBRAIN
Langkah-langkah aktivasi otak tengah (midbrain) secara sederhana dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu masa kestabilan awal dan masa pendalaman perkembangan. Pertama, adalah masa kestabilan awal. Setelah mengikuti selama setengah hari, midbrain anak akan teraktivasi. Anak dapat merasa sangat gembira juga sangat menarik. Para orang tua juga dapat merasakan kebahagian melihat kemampuan anak mereka. Anak cerdas dan anak baik adalah harapan setiap orang tua. Tiada hadiah yang lebih berharga untuk setiap anak kecuali mempersiapkan masa depan yang gemilang. Tetapi pada tahapan ini, hanyalah titik awal. Anak-anak dapat melupakan bagaimana mereka memasuki kondisi jalannya midbrain. Lama-kelamaan, sanggup menjadikan midbrain kembali dalam kondisi tertidur dan "tidak melihat". Jadi, memerlukan latihan setiap hari hingga stabil. Yang dimaksud dengan stabil adalah anak-anak dapat sewaktu-waktu melakukan menutup mata sambil mengenal warna, mengenal huruf, membaca, mengenali benda-benda dan lain sebagainya. Dalam jangka waktu tertentu mereka tidak mudah kehilangan kemampuan mereka, kecuali dalam jangka waktu lama tidak digunakan. Kedua; Masa Pendalaman. Pada tahapan ini kebanyakan orang tua berhenti bila mencapai masa stabil. Karena mereka tidak mengetahui bahwa anak masih memiliki potensi yang menunggu untuk dikembangkan. Seorang anak yang benar-benar menggunakan midbrain memiliki karakter yang seimbang, hubungan antar manusia yang baik, suka menolong orang, pandai bergaul, prestasi belajar menonjol dan lain sebagainya. Potensi ini memerlukan latihan penggunaan midbrain yang terus-menerus dari si anak; dari menutup mata yang dasar berlatih kemampuan menembus pandang; hingga tidak perlu menutup mata lagi dalam berlatih kemampuan menembus pandang sampai mencapai extra sensory. Pada akhirnya anak memasuki target dominasi dengan midbrain; yang disebut dengan talenta (bakat) anak. Sehingga mereka berubah menjadi manusia baru di jaman modern ini.

EFEK SAMPING AKTIVASI MIDBRAIN
Jika anda berpikir tentang efek samping dari aktivasi otak tengah ini, tidak ada. Beberapa kalangan telah menjamin kebenaran hal ini. Aktivasi otak tengah tidak melibatkan kegiatan keagamaan, mistik, hipnotis atau supranatural. Obat-obatan, suntikan dan getaran listrik juga tidak dipergunakan. Pada saat aktivasi otak tengah, acara dibuat agar anak-anak merasa bebas. Mereka dapat berteriak, bernyanyi, bahkan mendapatkan hadiah-hadiah kecil dari para trainer. Hal ini adalah hal yang biasa dan tidak mengganggu proses pengaktifan (Sangkaparan,2010).
Dampak positifnya dari aktivasi otak tengah adalah anak mempunyai konsentrasi yang lebih baik daya ingat yang meningkat, kestabilan emosi yang lebih baik, loving intelligence yang lebih tinggi ( kecenderungan kuat untuk mengasihi orang lain, termasuk orang tua). Efek-efek yang ditimbulkan setelah otak tengah diaktivasi bervariasi dan masing-masing anak tidak dapat disamakan. Misalnya, ada yang dominan dengan intuisinya, seperti anak bisa mendeteksi penyakit, menerima sinyal firasat, ada yang bisa menebak kartu. Nah, kalau kemampuan yang dimiliki anak ini tidak diarahkan ke hal-hal yang positif, maka akan memberi peluang untuk menyalahgunakan kemampuannya untuk hal-hal yang negatif, contohnya untuk berjudi.
Hal yang perlu dicatat, setelah pelatihan aktivasi otak tengah anak Anda selesai, Anda dianjurkan untuk terus melatih anak anda di rumah. Lakukanlah latihan secara teratur sehingga kemampuan anak semakin meningkat. Itulah cara aktivasi otak tengah. Kita hanya mengetahui sebatas cara-cara di atas, sedangkan cara yang lebih lengkap merupakan rahasia mereka. Meski demikian, paling tidak kita telah mengetahuinya dan mereka telah bermurah hati kepada kita dengan memberikan pelatihan kepada anak kita meskipun dengan biaya yang tergolong mahal. Namun, semua itu akan kembali kepada kita, karena anak adalah investasi masa depan kita, baik di dunia dan di akhirat.
*) Penulis Guru MAN Patas Buleleng

Daftar Pustaka
Sangkanparan, Hartono,2010. Dasyatnya Otak Tengah; Jadikan Anak Anda Cerdas Saat Ini Juga, Jakarta, Visimedia.

Oktavia, Winda, 2010. Mengenal lebih Detail Fungsi Otak Tengah, Jogyakarta, DIVA Press.

Sri Rizayannti Ni Nyoman, Upaya Mencerdaskan Anak, Singaraja, Majalah Profesi Edisi 2, Th.2009.


Sumber Website

http://DasyatnyaOtak Tengah.com

http://aespee. Wordpress.com

http://www.publishing-intl.com/midbrain.

Sabtu, 11 Desember 2010

MENJADI GURU YANG INSPIRATIF ‘’Dengan Jalan Prophetic Learning ‘’


Tulisan ini bermula dari adanya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Tahun 1431 H, yang kemudian menimbulkan pertanyaan, “Apa hikmah dari peringatan Maulid Nabi?”. Setelah penulis berkontemplasi mencari hikmah peringatan itu, baru penulis ingat sebuah buku dengan judul “Propetic Learning”.  Dari sinilah kemudian penulis terinspirasi untuk menulis “menjadi guru yang inspiratif  dengan jalan  kenabian.”
Di dunia pendidikan, banyak kita jumpai berbagai cara mengajar dan metode dalam  menciptakan gaya belajar siswa. Ada Quantum Learning, Beyond Teaching And Learning, Quatum Teaching  dan  yang baru adalah Prophetic Learning.
Pada kesempatan ini penulis mencoba memaparkan sekilas tentang Prophetic  Learning. Prophetic  Learning adalah sebuah  metode atau cara belajar yang menimba dari pengalaman  generasi emas ( The Golden Age) dengan jalan profetik/kenabian, dari khasanah sejarah kejayaan peradaban Islam di masa silam. Dengan Prophetic Learning akan menjadikan para muslim pembelajar mampu untuk berprestasi sekaligus berandil di masyarakat. Sehingga, kita tak lagi bertanya-tanya: “Mengapa ilmu yang di sekolah atau di perguruan tinggi tidak memiliki efek dalam membentuk karakter dan sikap hidup keseharian pembelajarnya?”
Sebagai contoh  yang dapat kita ambil hikmahnya  adalah sebuah kisah di masa generasi terdahulu, yaitu di masa hidupnya para perawi hadist, namanya Musa Bin Hazm. Ia guru dari Imam Bukhari dan Imam Tirmidzi. Awalnya, orangnya biasa-biasa saja sebelum menjadi ahli hadist. Perkembangan ilmunya tidak pesat. Perubahan  yang sangat luar biasa  terjadi ketika ia mulai bergaul dan menimba ilmu pada  Imam Ahmad bin Hambal. Sejak saat itu, ia  berubah menjadi  ulama ahli hadist yang sangat gigih belajarnya.  Kisah ini  menjelaskan kepada kita tentang pentingnya menjadi manusia-manusia pembelajar dan pengajar. Sebagaimana  motto di buku belajar mengaji (Iqro’) anak-anak, “khoirrukum man ta’allamul qur’an wa allammahu” yang artinya,“sebaik-baik kamu adalah yang mau belajar Al-Qur’an dan mau mengajarkannya”.
Islam memberikan dorongan kuat buat kita untuk menjadikan program belajar dan mengajar sebagai sebuah kepaduan yang akan membentuk karakter.  Secara gamblang Al-Qur’an  memaparkan  karakter generasi rabbani sebagai orang yang tidak henti untuk mengajar dan tidak pula bosan untuk selalu belajar. “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan kamu tetap mempelajarinya” ( Q.S. Ali Imran :79)
Kata rabbani terambil dari kata rabb, yang memiliki aneka macam makna, antara lain pendidik dan pelindung. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah menjelaskan  bahwa mereka yang dianugerahi  kitab, hikmah dan kenabian menganjurkan  semua  orang agar menjadi rabbani, dalam arti semua aktifitas, gerak, dan langkah, niat dan ucapan kesemuanya  sejalan dengan nilai-nilai  agama. Sehingga terjadi internalisasi nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang rabbani –menurut ayat ini- mengandung dua hal. Pertama, terus menerus mengajarkan  kitab suci, dan kedua, terus menerus mempelajarinya.

Sebuah Sapaan dari Rasulullah.
Rasulullah mengajarkan kepada kita tentang hubungan antara mengajar dan belajar. Beliau juga memberikan contoh  kepada kita bahwa sekat antara guru  dan murid sangatlah  tipis. Sebab, sebagaimana  kita pahami dari taujih rabbani  surat Ali Imran ayat 79 di atas, dalam diri seorang muslim menyatu posisi seorang guru dan murid sekaligus.  Ia selalu berproses untuk mengajar dan belajar.
Marilah kita meneropong kehidupan  Rasulullah. Nabi Muhammad SAW selalu memanggil orang-orang  yang mengikutinya dengan sapaan: ”sahabatku!”, sebuah sapaan  yang luar biasa. Tidak pernah beliau memanggil dengan: ”muridku”, ”pengikutku”, dan yang sejenisnya.  Selalu beliau memanggil ,”Sahabatku.” Luar biasa! Efek psikologis yang muncul adalah rasa kedekatan. Tidak ada jarak antara peran sebagai guru dan peran sebagai murid. Pada satu sisi, seorang muslim adalah murid yang memiliki semangat belajar membara. Akan tetapi, ia juga sebagai guru yang memberikan ilmunya secara ikhlas pada orang lain.
Kesadaran inilah semestinya  dimiliki  oleh muslim pembelajar. Setiap muslim pada hakekatnya adalah seorang guru. Guru yang diidamkan muslim pembelajar adalah guru yang inspiratif. Guru yang memberikan ilmunya pada siapa pun atas dorongan iman. Guru yang menggerakkan dan menginspirasi, yang mampu memantik kreatifitas. Mengajak untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang beragam. Dalam buku Prophetic Learning yang ditulis oleh Dwi Budiyanto,  guru dikategorikan  menjadi dua karakter, yaitu guru formalistik dan guru inspiratif. Berikut ini tabel perbandingan kedua karakter guru itu :


Guru Formalistik


Bahan Perbandingan

Guru  inspiratif
Pasif
Mitra Belajar
Aktif

Satu arah

Komunikasi

Dialogis

Masalah yang dihadapi

Fokus

Potensi mitra belajar

Jawaban Instan
( Giving Answer)

Hasil

Struktur  berpikir  ilmiah
( Sharpen mind )
Menerapkan satu cara,
 dari guru
Proses
Mengembangkan banyak cara/ alternatif
Menganggap orang lain sebagai murid
Pandangan  terhadap orang lain
Menganggap orang lain sebagai sahabat dan mitra belajar

Dari tabel di atas, kita dapat mengambil hikmah bahwa karakter guru inspiratif  adalah karakter guru yang moderat, terbuka, humanis dan punya kompetensii paedagogik yang baik. Itulah guru masa depan. Guru yang dengan tulus dan ikhlas menyadari  perannya sebagai  guru akan mengalami penguatan (reinforcement) motivasi untuk belajar. Motif kompetensi mendorong  seseorang untuk lebih menguasai materi yang akan disampaikan. Seperti seseorang yang akan melakukan presentasi, maka ada dorongan  dalam dirinya untuk mempersiapkan diri. Ia berkeinginan belajar sebelum presentasi.

Menjadi Cerdas Dengan Mengajar
Apakah dengan menjadi guru seseorang akan lebih cerdas! Itu akan otomatis terjadi pada seseorang, karena dengan mengajar akan mampu memperkuat pemahaman. Proses ini mendorong seseorang untuk menguasai kembali pelajaran yang pernah diperoleh. Langkah ini biasa disebut  sebagai re-learning ( belajar kembali). Selain itu, proses mengajar sama dengan mengingat kembali pemahaman yang pernah diperoleh.  Pada tahap ini,  kita sedang meneguhkan informasi dan pemahaman yang dimiliki dari short-term memory ke long-term memory, melaluii rehearsal (mengulang-ulang). Dengan menyampaikan kembali pelajaran kepada orang lain, sesungguhnya kita sedang mengulanginya. Kita sedang memperkuat  pemahaman kita untuk jangka waktu yang lebih panjang. Itulah sebabnya, beberapa pakar menjelaskan  bahwa ketika Anda mengajarkan  ilmu pada orang lain, maka mekanisme dalam otak kita akan bekerja untuk mengingat 95% lebih optimal.
Otak kita rata-rata mengingat

10%

Apa yang kita baca

20 %

Apa yang kita dengar

30 %

Apa yang kita lihat

50 %

Apa  yang kita dengar  sekaligus lihat

70 %

Kalau dibicarakan  dengan orang lain

80 %

Jika kita mengalami atau mempraktekkan

95 %

Jika kita mengajarkan pada orang lain

Menyampaikan ilmu pada orang lain –sebagai kebiasan kenabian- akan mendorong  kita lebih kreatif. Kita tergerak untuk menyampaikan apa yang kita ketahui secara baik, menarik, mudah dipahami, dan terbuka terhadap segala alternatif pemecahan masalah. Keinginan itu akan memantik kita untuk menyajikan contoh yang mudah dipahami  dan ilustrasi  yang gampang dicerna. Agar mudah dipahami kita pun berpikir  untuk menghubungkan penjelasan kita dengan kenyataan sehari-hari. Sebagai guru yang inspiratif, kita menyusun penjelasan secara kontekstual. Kerja inii menghajatkan lahirnya kreatifitas dalam diri kita. Jika semua itu kita lakukan terus menerus, maka kita sedang membiasakan diri untuk hidup dalam kreativitas dan penuh pengayaan, sebagai buah dari  karakter guru yang inspiratif, yang dilandasi oleh semangat kenabian.  Rasulullah sebagai mualim (guru) memberikan perhatian yang besar pada pengajaran. Beliau tidak sekadar mentransfer  pengetahuan kepada  para sahabat, tetapi menanamkan metode berpikir ilmiah.. Beliau juga memberikan apresiasi positif bagi mitra belajar. Sebagai contoh adalah sebuah  hadist  dari Abu Hurairah yang bertanya pada Rasulullah. ”Siapakah orang yang paling bahagia memperoleh syafaatmu di hari kiamat?”  Rasul kemudian  kemudian bersabda, ”Hai Abu Hurairah, sungguh saya telah menduga bahwa tidak ada seorang pun bertanya kepadaku tentang hadist ini mendahuluimu. Hal  itu karena saya mengetahui  kesungguhanmu dalam hadist. Orang yang paling bahagia dengan memperoleh  syafaatku pada hari kiamat  adalah orang yang mengucapkan  La  illaha illallah secara ikhlas dari hatinya atau dari dalam dirinya ” (HR. Bukhori).  Pada  hadis ini, Rasulullah sebelum menjawab pertanyaan Abu  Hurairah, rasul memberikan apresiasi positif terlebih dahulu. Sepatah pujian atau ungkapan penyemangat mampu mendongkrak kesungguhan  dan keseriusan. Pujian yang benar akan lebih banyak memberikan dorongan untuk mencapai puncak  prestasi. 

*)  Penulis, Guru Madrasah Aliyah Negeri Patas Buleleng
     E-mail : imronwahid@ymail.com



Referensi :
Dwi Budiyanto (2009)
Prophetic Learning, Yogyakarta, Penerbit
Pro-U Media.

Aidh Qorni,2006, La Tahzan, Jangan Bersedih!  Jakarta:
Penerbit Qisthi Press

Quraish Shihab, 2006, Tafsir Al-Misbah, Jakarta
Penerbit Lentera Hati

Syaikh Syafiyyur Rahman,2002, Sirah Nabawiyah, Jakarta
Penerbit Pustaka Al-Kautsar













Template by : kendhin x-template.blogspot.com