Sabtu, 11 Desember 2010

Menjadi Guru Yang Dirindukan

Untuk menjadi guru memang mudah, namun untuk menjadi guru yang profesional dan dirindukan tidak semudah yang kita bayangkan.
sungguh, orang yang mendidik anak-anak dengan kesungguhan paling berhak untuk mendapatkan penghargaan dan penghormatan. dia adalah sang guru, dialah tulang punggung peradaban manusia.
Guru mempunyai multiperan dalam membentuk kepribadian anak-anak. Seorang guru akan memerankan seorang pemimpin yang menjaga keadilan sosial dan menjadi sesepuh masyarakat yang mengajari para murid tentang beberapa prinsip hidup, nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang baik atau seseorang yang dijadikan rujukan yang memiliki keterampilan dan ilmu pengetahuan beranekaragam atau seorang penasehat yang memberika petunjuk dan pengarahan kepada muridnya untuk menyelesaikan permasalahan hidup dan untuk menjadikan anak didiknya menjadi seorang yang dewasa dan berguna.
Dan seorang penyair arab berkata :
Aku anggap guruku seperti orang tuaku
Kemuliaan dan keluhuran aku peroleh dari orang tuaku
Jika tidak karena guru, aku tidak bisa membaca buku
Juga kutak bisa memahami makna yang termaktub dibuku 
Guru adalah orang yang bersamudrakan ilmu pengetahuan, ia adalah cahaya yang menerangi kehidupan mansia, ia adalah musuh kebodohan dan penghapus kejahiliyahan, ia juga yang mencerdaskan akal dan mencerahkan akhlaq. Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk memuliakan seorang guru dan menghargainya. Karena, ia adalaj pembawa risalah yang mulia yaitu risalah ilmu dan pendidikan yang dibawa oleh Nabi dan Utusan Allah yang terakhir yaitu Nabi Muhammab SAW. 

Sepuluh petuah bagi guru Rabbani
  1. Jangan segera memberika hukuman, akan tetapi berusahalah untuk memberikan nasehat terlebih dahulu.
  2. Jangan menjatuhkan hukuman sebelum mengetahui dengan jelas kesalahan-kesalahan mereka.
  3. Jangan sewenang-wenang dalam mengadili seorang murid yang telah berbohong.
  4. Jangan mengeluarkan murid dari ruangan kelas sebagai hukuman terkadang simurid melakukan kegaduhan agar anda segera mnyudahi materi pelajaran.
  5. Jangan memberikan hukuman badan (siksa fisik) kecuali memang hal itu adalah alternatif terakhir dan patut untuk dilakukan.
  6. Jangan mennghina seorang murid supaya tidak tampak kelemahan jiwanya.
  7. Jangan memukul bagian wajah karena hal itu dilarang oleh agama.
  8. Jangan menghukum semua murid dalam satu kelas karena kesalahan sebagian dari mereka.
  9. Jangan mengancam dengan melaporkan ke kantor sekolah kecuali memang terpaksa.
  10. Jangan menghukum anak secara fisik.

 Dikutip dari : Menjadi Guru yang Dirindu (Ziyad Visi Media:2009)

AGAMA ADALAH NASIHAT

عن أبي تميم بن أوس الـداري رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال " الدين النصيحة قلنا لمن ؟ قال : لله ولرسوله وللأئمة المسلمين و عامتهم
Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad Daari radhiallahu 'anh, “Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda : Agama itu adalah Nasehat , Kami bertanya : Untuk Siapa ?, Beliau bersabda : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim”
[Muslim no. 55]


Tamim Ad Daari hanya meriwayatkan hadits ini, kata nasihat merupakan sebuah kata singkat penuh isi, maksudnya ialah segala hal yang baik. Dalam bahasa arab tidak ada kata lain yang pengertiannya setara dengan kata nasihat, sebagaimana disebutkan oleh para ulama bahasa arab tentang kata Al Fallaah yang tidak memiliki padanan setara, yang mencakup makna kebaikan dunia dan akhirat.

Kalimat, “Agama adalah Nasihat” maksudnya adalah sebagai tiang dan penopang agama, sebagaimana sabda Rasulullah, “Haji adalah arafah”, maksudnya wukuf di arafah adalah tiang dan bagian terpenting haji.
Tentang penafsiran kata nasihat dan berbagai cabangnya, Khathabi dan ulama-ulama lain mengatakan :
1. Nasihat untuk Allah à maksudnya beriman semata-mata kepada-Nya, menjauhkan diri dari syirik dan sikap ingkar terhadap sifat-sifat-Nya, memberikan kepada Allah sifat-sifat sempurna dan segala keagungan, mensucikan-Nya dari segala sifat kekurangan, menaati-Nya, menjauhkan diri dari perbuatan dosa, mencintai dan membenci sesuatu semata karena-Nya, berjihad menghadapi orang-orang kafir, mengakui dan bersyukur atas segala nikmat-Nya, berlaku ikhlas dalam segala urusan, mengajak melakukan segala kebaikan, menganjurkan orang berbuat kebaikan, bersikap lemah lembut kepada sesama manusia. Khathabi berkata : “Secara prinsip, sifat-sifat baik tersebut, kebaikannya kembali kepada pelakunya sendiri, karena Allah tidak memerlukan kebaikan dari siapapun”
2. Nasihat untuk kitab-Nya à maksudnya beriman kepada firman-firman Allah dan diturunkan-Nya firman-firman itu kepada Rasul-Nya, mengakui bahwa itu semua tidak sama dengan perkataan manusia dan tidak pula dapat dibandingkan dengan perkataan siapapun, kemudian menghormati firman Allah, membacanya dengan sungguh-sungguh, melafazhkan dengan baik dengan sikap rendah hati dalam membacanya, menjaganya dari takwilan orang-orang yang menyimpang, membenarkan segala isinya, mengikuti hokum-hukumnya, memahami berbagai macam ilmunya dan kalimat-kalimat perumpamaannya, mengambilnya sebagai pelajaran, merenungkan segala keajaibannya, mengamalkan dan menerima apa adanya tentang ayat-ayat mutasyabih, mengkaji ayat-ayat yang bersifat umum, dan mengajak manusia pada hal-hal sebagaimana tersebut diatas dan menimani Kitabullah
3. Nasihat untuk Rasul-Nya maksudnya membenarkan ajaran-ajarannya, mengimani semua yang dibawanya, menaati perintah dan larangannya, membelanya semasa hidup maupun setelah wafat, melawan para musuhnya, membela para pengikutnya, menghormati hak-haknya, memuliakannya, menghidupkan sunnahnya, mengikuti seruannya, menyebarluaskan tuntunannya, tidak menuduhnya melakukan hal yang tidak baik, menyebarluaskan ilmunya dan memahami segala arti dari ilmu-ilmunya dan mengajak manusia pada ajarannya, berlaku santun dalam mengajarkannya, mengagungkannya dan berlaku baik ketika membaca sunnah-sunnahnya, tidak membicarakan sesuatu yang tidak diketahui sunnahnya, memuliakan para pengikut sunnahnya, meniru akhlak dan kesopanannya, mencintai keluarganya, para sahabatnya, meninggalkan orang yang melakukan perkara bid’ah dan orang yang tidak mengakui salah satu sahabatnya dan lain sebagainya.
4. Nasihat untuk para pemimpin umat islam maksudnya menolong mereka dalam kebenaran, menaati perintah mereka dan memperingatkan kesalahan mereka dengan lemah lembut, memberitahu mereka jika mereka lupa, memberitahu mereka apa yang menjadi hak kaum muslim, tidak melawan mereka dengan senjata, mempersatukan hati umat untuk taat kepada mereka (tidak untuk maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya), dan makmum shalat dibelakang mereka, berjihad bersama mereka dan mendo’akan mereka agar mereka mendapatkan kebaikan.
5. Nasihat untuk seluruh kaum muslim à maksudnya memberikan bimbingan kepada mereka apa yang dapat memberikan kebaikan bagi merela dalam urusan dunia dan akhirat, memberikan bantuan kepada mereka, menutup aib dan cacat mereka, menghindarkan diri dari hal-hal yang membahayakan dan mengusahakan kebaikan bagi mereka, menyuruh mereka berbuat ma’ruf dan mencegah mereka berbuat kemungkaran dengan sikap santun, ikhlas dan kasih sayang kepada mereka, memuliakan yang tua dan menyayangi yang muda, memberikan nasihat yang baik kepada mereka, menjauhi kebencian dan kedengkian, mencintai sesuatu yang menjadi hak mereka seperti mencintai sesuatu yang menjadi hak miliknya sendiri, tidak menyukai sesuatu yang tidak mereka sukai sebagaimana dia sendiri tidak menyukainya, melindungi harta dan kehormatan mereka dan sebagainya baik dengan ucapan maupun perbuatan serta menganjurkan kepada mereka menerapkan perilaku-perilaku tersebut diatas. Wallahu a’lam

Memberi nasihat merupakan fardu kifayah, jika telah ada yang melaksanakannya, maka yang lain terlepas dari kewajiban ini. Hal ini merupakan keharusan yang dikerjakan sesuai kemampuan. Nasihat dalam bahasa arab artinya membersihkan atau memurnikan seperti pada kalimat nashahtul ‘asala artinya saya membersihkan madu hingga tersisa yang murni, namun ada juga yang mengatakan kata nasihat memiliki makna lain. Wallahu a’lam

MINTA TOLONG DAN BERLINDUNG HANYA PADA ALLAH

عن أبي العباس عبدالله بن عباس رضي الله عنه قال كنت خلف النبي صلى الله عليه وسلم يوماً فقال " يا غلام , إني أعلمك كلمات : احفظ الله يحفظك , احفظ الله تجده تجاهك , إذا سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله , واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك , وإن اجتمعوا على أن يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك , رفعت الأقلام وجفت الصحف " رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح وفي رواية غير الترمذي : احفظ الله تجده أمامك , تعرف إلى الله في الرخاء يعرفك في الشدة , واعلم أن ما أخطأك لم يكن ليصيبك وما أصابك لك يكن ليخطئك , واعلم أن النصر مع الصبر , وأن الفرج مع الكرب , وأن مع العسر يسراً
Dari Abu Al ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu anhu, ia berkata : Pada suatu hari saya pernah berada di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda : "Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat : Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan untuk dirimu. Sekiranya mereka pun berkumpul untuk melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Segenap pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering." (HR. Tirmidzi, ia telah berkata : Hadits ini hasan, pada lafazh lain hasan shahih. Dalam riwayat selain Tirmidzi : “Hendaklah kamu selalu mengingat Allah, pasti kamu mendapati-Nya di hadapanmu. Hendaklah kamu mengingat Allah di waktu lapang (senang), niscaya Allah akan mengingat kamu di waktu sempit (susah). Ketahuilah bahwa apa yang semestinya tidak menimpa kamu, tidak akan menimpamu, dan apa yang semestinya menimpamu tidak akan terhindar darimu. Ketahuilah sesungguhnya kemenangan menyertai kesabaran dan sesungguhnya kesenangan menyertai kesusahan dan kesulitan”)
[Tirmidzi no. 2516]


Riwayat hidup ‘Abdullah bin ‘Abbas sudah banyak dikenal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mendo’akannya dengan sabdanya :
“Ya Allah, jadikanlah dia paham tentang agamanya dan ajarkanlah kepadanya penafsiran Al Qur’an”.

Nabi juga mendo’akannya agar diberi hikmah dua kali. Ada riwayat yang sah dari dirinya bahwa dia pernah melihat Jibril dua kali. Ia adalah ulama yang kaya ilmu di kalangan umat Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melihatnya sebagai seorang anak yang patut menerima pesan beliau.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepadanya : “Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu”, maksudnya hendaklah kamu menjadi orang yang taat kepada Tuhanmu, melaksanakan semua perintah-Nya, dan menjauhi semua larangan-Nya.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu”, maksudnya hendaklah beramal karena-Nya dengan penuh ketaatan sehingga Allah tidak memandangmu sebagai orang yang menyalahi perintah-Nya, niscaya kamu akan mendapati Allah menjadi penolongmu di saat situasi sulit, seperti yang pernah terjadi pada kisah tiga orang yang tertimpa hujan lebat lalu mereka berlindung di dalam gua, kemudian pintu gua tertutup batu. Pada saat itu mereka berkata kepada sesamanya : “Ingatlah kebaikan yang pernah kamu lakukan, lalu mohonlah kepada Allah dengan kebaikan itu supaya kamu diselamatkan”. Kemudian masing-masing menyebut kebaikan yang pernah dilakukan, maka batu penutup gua itu kemudian terbuka lalu mereka dapat keluar. Kisah mereka ini popular dan terdapat pada Hadits shahih.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah”, memberikan petunjuk supaya bertawakkal kepada Allah, tidak bertuhan kepada selain-Nya, tidak menggantungkan nasibnya kepada siapa pun baik sedikit ataupun banyak.

Allah berfirman :
“Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah maka Allah pasti akan memberinya kecukupan”. (QS. Ath Thalaq : 3)

Berapa besar ketergantungan seseorang kepada selain Allah baik dalam hatinya maupun dalam angan-angannya, maka sebesar itu pula ia telah menjauhkan diri dari Allah untuk bergantung kepada sesuatu yang tidak kuasa memberinya manfaat atau kerugian. Begitu juga takut kepada selain Allah.
Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menegaskan dengan sabdanya : “Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan untuk dirimu”.
Begitu pula dalam hal kerugian, “niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu”. Inilah yang disebut iman kepada taqdir.
Iman kepada taqdir adalah wajib, baik taqdir yang baik maupun yang buruk. Apabila seorang mukmin telah yakin dengan hal ini, maka apa perlunya dia meminta kepada selain Allah atau memohon pertolongan kepada yang lain. Begitu pula jawaban Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada malaikat Jibril ketika ia bertanya kepada beliau saat berada di langit (ketika mi’raj) : “Apakah engkau membutuhkan pertolongan?” Beliau menjawab : “Kalau kepadamu tidak”.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Segenap pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering”, menguatkan keterangan tersebut diatas, maksudnya tidak berlawanan dengan apa yang telah dijelaskan sebelumnya.

Kemudian sabda beliau : “Ketahuilah sesungguhnya kemenangan menyertai kesabaran dan sesungguhnya kesenangan menyertai kesusahan dan kesulitan”, maksudnya beliau mengingatkan kepada manusia di dunia ini, terutama orang-orang shalih bahwa mereka itu selalu dihadapkan kepada ujian dan cobaan sebagaimana firman Allah :
“Sungguh Kami pasti memberi cobaan kepada kamu sekalian dengan sesuatu berupa rasa takut, kelaparan, berkurangnya harta, jiwa dan buah-buahan. Dan gembirakanlah orang-orang yang bersabar, yaitu mereka yang bila ditimpa musibah, mereka berkata : ‘Sungguh kami semua adalah milik Allah dan sungguh hanya kepada-Nyalah kami kembali’. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan limpahan karunia dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang terpimpin”. (QS. 2 : 155-157)

Allah berfirman :
“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar itu pastilah dipenuhi pahala mereka tanpa batas”. (QS. Az Zumar : 10)

Upaya Mencegah Aksi Terorisme

Dunia gempar dengan peristiwa attack bom terhadap Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton 17 Juli 2009. Aksi-aksi biadab ini tentu saja meneror dan menciderai nilai kemanusiaan. Termasuk juga di antaranya apa yang telah dilakukan oleh Imam Samudra dan cs-nya di Legian Kuta beberapa tahun lalu. Fakta memang membuktikan bahwa ada segelintir orang yang mengatasnamakan ”jihad” untuk melakukan tindakan teror. Apapun alasannya, tindakan membunuh satu jiwa -tanpa dibenarkan oleh hukum- pada hakekatnya juga telah membunuh jiwa manusia secara menyeluruh. Siapapun yang telah menganggap remeh nyawa satu manusia saja, maka pada hakekatnya dia telah menganggap remeh nyawa umat manusia. Jadi, peristiwa bom bunuh diri (suicide bomm) itu apapun alasanya tidak dibenarkan oleh semua agama. Terorisme sebagai lingkaran setan, telah berdampak buruk bagi pelaku dan korban sekaligus. Bagi pelaku, mereka tidak sabar untuk melakukan tindakan nekat, bahkan untuk bunuh diri. Pasalnya, mereka adalah pihak yang siap mati. Jadi psikologi yang tumbuh di kalangan teroris adalah psikologi kematian. Di dalam pikiran mereka, yang muncul adalah kepastian untuk mati, bukan kepastian untuk hidup. Bagi korban, aksi-aksi terorisme ini telah menimbulkan trauma dan kerugian yang besar bagi para korban dan keluarga yang ditinggalkan.

Akar Penyebab Terorisme
Ada beberapa pendapat yang telah dikemukakan menyangkut akar penyebab timbulnya tindak terorisme di Indonesia dan upaya pencegahannya.
Menurut Toto Suparto, akar teror ini bukan melulu dilakukan oleh orang yang tergiur janji surga, bukan pula soal ideologis. Terorisme tumbuh akibat ketimpangan belahan dunia. Kapitalisme Barat sangat nyata mengalir di negeri ini, dan celakanya malah memperlebar ketimpangan ekonomi rakyat. Secara eksplisit para teroris ingin menunjukkan penolakan terhadap jenis kapitalisme dan modernisasi yang kejam, yang dibawa oleh pasar modal dan celakanya didominasi oleh sejumlah kecil korporasi internasional. Inilah yang disebut terorisme global. Dampak dari globalisasi, telah membagi masyarakat dunia ke dalam kelompok-kelompok pemenang, penerima keuntungan dan pecundang. Terorisme global adalah perlawanan para pecundang terhadap pemenang. Para pecundang punya dalih bahwa globalisasi merupakan pencabutan cara-cara hidup tradisional dengan jalan ”kekerasan”, yang dilakukan pihak Kapitalis dan liberalis sebagai representasi dari Barat.
Sedangkan upaya yang ditawarkan untuk menekan tindak terorisme adalah memaksimalkan peran negara dalam menjalankan fungsinya bagi masyarakat. Jika negara dapat menyejahterakan rakyatnya, pelan-pelan terorisme bisa ditekan. (JP,23/7/2009).
Pendapat yang lain adalah dari Said Aqil Siradj selaku tokoh NU, yang menyatakan bahwa akar penyebab timbulnya terorisme adalah gerakan Islam radikal. Gerakan ini sangat dipengaruhi oleh pola-pola pemikiran kelompok Khawarij. Sikap mereka yang ingin menempuh jalur apa saja, menyalahkan siapa saja yang tak sama pemahamannya, merupakan refleksi dari pemahaman agama yang sempit. Ciri-ciri dari pemahaman yang menyimpang ini adalah ”mudah mengkafirkan orang”, dengan alasan bahwa orang itu telah berbuat dosa besar. Termasuk Khalifah Ali bin Abi Thalib telah mereka vonis kafir, karena telah membenarkan arbitrase atau tahkim dengan Mu’awiyah. Otomatis mereka anggap halal darahnya dan berakibat pada terbunuhnya Khalifah Ali bin Thalib. Itu semua sebagai akibat dari kesalahan memahami potongan ayat,”barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka mereka itu kafir”.(Al-Maidah: 44). Ayat ini menjadi doktrin laa hukma illa Allah, bahwa arbitrase hanya milik Allah.
Dampak dari pemikiran kelompok Khawarij ini telah tercatat dalam sejarah, dengan tindakan-tindakan teror yang telah mereka lakukan terhadap kaum muslimin. Salah satu korbannya adalah Abdullah Bin Khabbab, seorang Gubernur dalam pemerintahan Khalifah Ali Bin Abi Thalib, tatkala ia bersama keluarganya melewati wilayah kelompok khawarij, maka dia dibantai oleh orang-orang khawarij. Kemudian istrinya yang sedang hamil, diseret dan dibelah perutnya untuk dikeluarkan bayi yang ada di dalam rahimnya. Subnalallah...Kejam dan biadab sekali perbuatan mereka. Sampai pada puncaknya mereka membunuh Khalifah Ali Bin Abi Thalib. (Syalabi,1997)
Pada pidato Presiden SBY tanggal 29 Juli 2009 dalam rapat terbatas pada Kabinet Indonesia Bersatu dan telekonferensi dengan para Gubernur seluruh Indonesia, telah disinggung mengenai terorisme. Beliau menyatakan bahwa akar penyebab terorisme adalah :1) Idiologi yang radikal yang berkembang dan bisa muncul di mana-mana. 2) Penyimpangan terhadap ajaran agama, terutama dalam menafsirkan konsep jihad, surga dan neraka, 3) Kondisi kehidupan yang susah dan kemiskinan yang absolute. Dari akar penyebab ini perlu adanya solusi untuk mencegah terjadinya aksi terorisme, diantaranya adalah: 1). Pendidikan agama yang benar, yang dapat mencegah perilaku yang mengarah pada tindakan terorisme. 2) Pembangunan, yang dapat mencegah kemiskinan dan keterbelakangan dalam kehidupan rakyat. 3) Memaksimalkan peran aparat Pemerintah bersama seluruh rakyat Indonesia untuk mencegah aksi-aksi terorisme.
Pada akhirnya, upaya pemerintah untuk menjamin kesejahteraan rakyat perlu kita dukung bersama. Angka kemiskinan harus dikurangi dan ketimpangan sosial jangan dibiarkan menganga. Kecemburuan sosial diganti dengan keadilan sosial.

Tanggungjawab Para Pendidik
Untuk mencegah timbulnya radikalisme dan terorisme, upaya yang paling efektif -disamping lewat keamanan- adalah lewat jalur pendidikan, terutama pada peran aktif para guru sebagai pengajar dan pendidik. Guru mempunyai tugas dan fungsi (tupoksi) yang sangat strategis. Pertama, guru sebagai pengajar berkewajiban untuk menyampaikan materi pelajaran sampai siswa mencapai nilai ketuntasan minimal (KKM). Kedua, guru sebagai pendidik berkewajiban memberikan wawasan dan pemahaman agama yang benar dan tidak menyimpang. Guru sebagai ujung tombak dalam memberikan pendidikan moral/akhlak mempunyai tugas untuk membentuk kesalehan perilaku sehari-hari anak didik. Guru harus mampu merebut hati dan pikiran anak didik agar jauh dari hal-hal yang membahayakan agama dan kemanusiaan. Betapa berbahaya apabila agama telah diselewengkan oleh para teroris. Kecenderungan saat ini, para pelaku terorisme berusia muda, yang punya pola pikir (mindset) yang salah. Mereka terpengaruh oleh paham Neokhawarij (meminjam istilah Azumardi Azra). Untuk itu perlu reorientasi pengajaran agama di sekolah. Kelemahan pengajaran agama di sekolah/madrasah selama ini adalah masih terjebak pada cognitive oriented, bukan penanaman nilai. Pengertian moral/akhlak hanya sebatas pada tataran ilmu, yang dipahami sebagai seperangkat aturan, ketentuan, atau norma sopan santun, seperti cara berpakaian, cara bergaul dan sejenisnya, bukan keseluruhan kepribadian muslim yang menyangkut kemandirian, kedisiplinan, kejujuran, tanggungjawab, dan kepedulian sosial. Guru tidak cukup hanya menyajikan materi pelajaran agama pada tataran normatif, kemudian ditagih melalui ujian dan hafalan. Akibatnya, anak didik hanya tahu dan hafal tentang ilmu moral/akhlak tetapi tidak sampai pada tahap implementasi dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh sebab itu guru/ustadz mempunyai peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter anak didik (character building). Guru adalah contoh (role model), pengasuh (caregiver) dan penasehat (mentor) bagi kehidupan anak didik. Kita ingat, guru sering diartikan sebagai digugu lan ditiru, artinya keteladanan guru menjadi sangat berharga dihati dan pikiran anak didik, sebagai figur nyata yang dapat diteladani Jadi, guru menjadi penentu dalam memberikan pemahaman yang baik tentang agama dan kehidupan. Sebagai contoh, kita sebagai guru perlu mengucapkan pada anak didik bahwa “Tuhan itu tidak perlu dibela, karena Tuhan Maha Perkasa, kalau engkau mau membela Tuhan, maka bela hamba-hamba yang dalam kehidupannya menderita dan tertindas ”. Selanjutnya anak didik kita ajak untuk bersedekah kepada fakir miskin.
Disamping itu para pendidik dituntut untuk memikirkan, memahami, dan menghayati institusi agamanya untuk sebuah kehidupan yang plural, yang mengajarkan nilai-nilai universal seperti HAM, demokrasi dan keadilan. Salah satu visi pendidikan abad 21 yang telah dirumuskan UNESCO adalah learning to live together (belajar untuk hidup bersama). Ini berarti, pendidikan harus mengarahkan anak didik agar siap dan mampu untuk hidup bersama-sama dengan semangat toleransi, tanpa permusuhan karena perbedaan etnis, agama, atau golongan. (A.Qodry,2003).
Pada saat yang sama pula guru harus mampu mengajak anak didik membangun kebersamaan dan persatuan antar sesama siswa dengan berpikir sehat, sadar diri, dan bersedia menjaga lingkungan serta berorientasi pada karya dan prestasi untuk masa depan mereka. Masa depan mereka berarti masa depan bangsa. Oleh karena itu guru mempunyai tanggungjawab dan tugas mulia untuk mencetak generasi muda yang mempunyai pemahaman keagamaan yang baik dan benar, sebagai upaya mencegah tindakan terorisme. Akhirnya, guru dituntut untuk selalu meng-update wawasan dan pemahaman keagamaan, baik melalui buku, media cetak dan elektronik maupun pusat-pusat pendidikan dan pelatihan keagamaan (Pusdiklat). Dengan harapan, para pendidik dapat menyampaikan materi tentang nilai-nilai kemanusiaan, pengetahuan dan peradaban.

Daftar Pustaka ;
A.Syalabi, Prof, Dr, ”Sejarah dan Kebudayaan Islam 2”, PT. Al Husna Zikra, 2000
Azyumardi Azra, Prof, Dr, ”Pendidikan Islam”, Penerbit Kalimah, cetakan III, Jakarta. 2001
A. Qodri. Azizy, Prof, Dr, ”Pendidikan (agama) Untuk Membangun Eetika Sosial, CV. Aneka Ilmu, Semarang, 2003
A. Qodri Azizy, Prof, Dr, ”Melawan Globalisasi , Reinterpretasi Ajaran Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, cet. IV, 2004



Identitas Penulis :
Nama : Imron Wahid Widodo, S.Pd
Guru Madrasah Aliyah Negeri Patas, Buleleng , Bali

MENJADI GURU YANG INSPIRATIF ‘’Dengan Jalan Prophetic Learning ‘’


Tulisan ini bermula dari adanya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Tahun 1431 H, yang kemudian menimbulkan pertanyaan, “Apa hikmah dari peringatan Maulid Nabi?”. Setelah penulis berkontemplasi mencari hikmah peringatan itu, baru penulis ingat sebuah buku dengan judul “Propetic Learning”.  Dari sinilah kemudian penulis terinspirasi untuk menulis “menjadi guru yang inspiratif  dengan jalan  kenabian.”
Di dunia pendidikan, banyak kita jumpai berbagai cara mengajar dan metode dalam  menciptakan gaya belajar siswa. Ada Quantum Learning, Beyond Teaching And Learning, Quatum Teaching  dan  yang baru adalah Prophetic Learning.
Pada kesempatan ini penulis mencoba memaparkan sekilas tentang Prophetic  Learning. Prophetic  Learning adalah sebuah  metode atau cara belajar yang menimba dari pengalaman  generasi emas ( The Golden Age) dengan jalan profetik/kenabian, dari khasanah sejarah kejayaan peradaban Islam di masa silam. Dengan Prophetic Learning akan menjadikan para muslim pembelajar mampu untuk berprestasi sekaligus berandil di masyarakat. Sehingga, kita tak lagi bertanya-tanya: “Mengapa ilmu yang di sekolah atau di perguruan tinggi tidak memiliki efek dalam membentuk karakter dan sikap hidup keseharian pembelajarnya?”
Sebagai contoh  yang dapat kita ambil hikmahnya  adalah sebuah kisah di masa generasi terdahulu, yaitu di masa hidupnya para perawi hadist, namanya Musa Bin Hazm. Ia guru dari Imam Bukhari dan Imam Tirmidzi. Awalnya, orangnya biasa-biasa saja sebelum menjadi ahli hadist. Perkembangan ilmunya tidak pesat. Perubahan  yang sangat luar biasa  terjadi ketika ia mulai bergaul dan menimba ilmu pada  Imam Ahmad bin Hambal. Sejak saat itu, ia  berubah menjadi  ulama ahli hadist yang sangat gigih belajarnya.  Kisah ini  menjelaskan kepada kita tentang pentingnya menjadi manusia-manusia pembelajar dan pengajar. Sebagaimana  motto di buku belajar mengaji (Iqro’) anak-anak, “khoirrukum man ta’allamul qur’an wa allammahu” yang artinya,“sebaik-baik kamu adalah yang mau belajar Al-Qur’an dan mau mengajarkannya”.
Islam memberikan dorongan kuat buat kita untuk menjadikan program belajar dan mengajar sebagai sebuah kepaduan yang akan membentuk karakter.  Secara gamblang Al-Qur’an  memaparkan  karakter generasi rabbani sebagai orang yang tidak henti untuk mengajar dan tidak pula bosan untuk selalu belajar. “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan kamu tetap mempelajarinya” ( Q.S. Ali Imran :79)
Kata rabbani terambil dari kata rabb, yang memiliki aneka macam makna, antara lain pendidik dan pelindung. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah menjelaskan  bahwa mereka yang dianugerahi  kitab, hikmah dan kenabian menganjurkan  semua  orang agar menjadi rabbani, dalam arti semua aktifitas, gerak, dan langkah, niat dan ucapan kesemuanya  sejalan dengan nilai-nilai  agama. Sehingga terjadi internalisasi nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang rabbani –menurut ayat ini- mengandung dua hal. Pertama, terus menerus mengajarkan  kitab suci, dan kedua, terus menerus mempelajarinya.

Sebuah Sapaan dari Rasulullah.
Rasulullah mengajarkan kepada kita tentang hubungan antara mengajar dan belajar. Beliau juga memberikan contoh  kepada kita bahwa sekat antara guru  dan murid sangatlah  tipis. Sebab, sebagaimana  kita pahami dari taujih rabbani  surat Ali Imran ayat 79 di atas, dalam diri seorang muslim menyatu posisi seorang guru dan murid sekaligus.  Ia selalu berproses untuk mengajar dan belajar.
Marilah kita meneropong kehidupan  Rasulullah. Nabi Muhammad SAW selalu memanggil orang-orang  yang mengikutinya dengan sapaan: ”sahabatku!”, sebuah sapaan  yang luar biasa. Tidak pernah beliau memanggil dengan: ”muridku”, ”pengikutku”, dan yang sejenisnya.  Selalu beliau memanggil ,”Sahabatku.” Luar biasa! Efek psikologis yang muncul adalah rasa kedekatan. Tidak ada jarak antara peran sebagai guru dan peran sebagai murid. Pada satu sisi, seorang muslim adalah murid yang memiliki semangat belajar membara. Akan tetapi, ia juga sebagai guru yang memberikan ilmunya secara ikhlas pada orang lain.
Kesadaran inilah semestinya  dimiliki  oleh muslim pembelajar. Setiap muslim pada hakekatnya adalah seorang guru. Guru yang diidamkan muslim pembelajar adalah guru yang inspiratif. Guru yang memberikan ilmunya pada siapa pun atas dorongan iman. Guru yang menggerakkan dan menginspirasi, yang mampu memantik kreatifitas. Mengajak untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang beragam. Dalam buku Prophetic Learning yang ditulis oleh Dwi Budiyanto,  guru dikategorikan  menjadi dua karakter, yaitu guru formalistik dan guru inspiratif. Berikut ini tabel perbandingan kedua karakter guru itu :


Guru Formalistik


Bahan Perbandingan

Guru  inspiratif
Pasif
Mitra Belajar
Aktif

Satu arah

Komunikasi

Dialogis

Masalah yang dihadapi

Fokus

Potensi mitra belajar

Jawaban Instan
( Giving Answer)

Hasil

Struktur  berpikir  ilmiah
( Sharpen mind )
Menerapkan satu cara,
 dari guru
Proses
Mengembangkan banyak cara/ alternatif
Menganggap orang lain sebagai murid
Pandangan  terhadap orang lain
Menganggap orang lain sebagai sahabat dan mitra belajar

Dari tabel di atas, kita dapat mengambil hikmah bahwa karakter guru inspiratif  adalah karakter guru yang moderat, terbuka, humanis dan punya kompetensii paedagogik yang baik. Itulah guru masa depan. Guru yang dengan tulus dan ikhlas menyadari  perannya sebagai  guru akan mengalami penguatan (reinforcement) motivasi untuk belajar. Motif kompetensi mendorong  seseorang untuk lebih menguasai materi yang akan disampaikan. Seperti seseorang yang akan melakukan presentasi, maka ada dorongan  dalam dirinya untuk mempersiapkan diri. Ia berkeinginan belajar sebelum presentasi.

Menjadi Cerdas Dengan Mengajar
Apakah dengan menjadi guru seseorang akan lebih cerdas! Itu akan otomatis terjadi pada seseorang, karena dengan mengajar akan mampu memperkuat pemahaman. Proses ini mendorong seseorang untuk menguasai kembali pelajaran yang pernah diperoleh. Langkah ini biasa disebut  sebagai re-learning ( belajar kembali). Selain itu, proses mengajar sama dengan mengingat kembali pemahaman yang pernah diperoleh.  Pada tahap ini,  kita sedang meneguhkan informasi dan pemahaman yang dimiliki dari short-term memory ke long-term memory, melaluii rehearsal (mengulang-ulang). Dengan menyampaikan kembali pelajaran kepada orang lain, sesungguhnya kita sedang mengulanginya. Kita sedang memperkuat  pemahaman kita untuk jangka waktu yang lebih panjang. Itulah sebabnya, beberapa pakar menjelaskan  bahwa ketika Anda mengajarkan  ilmu pada orang lain, maka mekanisme dalam otak kita akan bekerja untuk mengingat 95% lebih optimal.
Otak kita rata-rata mengingat

10%

Apa yang kita baca

20 %

Apa yang kita dengar

30 %

Apa yang kita lihat

50 %

Apa  yang kita dengar  sekaligus lihat

70 %

Kalau dibicarakan  dengan orang lain

80 %

Jika kita mengalami atau mempraktekkan

95 %

Jika kita mengajarkan pada orang lain

Menyampaikan ilmu pada orang lain –sebagai kebiasan kenabian- akan mendorong  kita lebih kreatif. Kita tergerak untuk menyampaikan apa yang kita ketahui secara baik, menarik, mudah dipahami, dan terbuka terhadap segala alternatif pemecahan masalah. Keinginan itu akan memantik kita untuk menyajikan contoh yang mudah dipahami  dan ilustrasi  yang gampang dicerna. Agar mudah dipahami kita pun berpikir  untuk menghubungkan penjelasan kita dengan kenyataan sehari-hari. Sebagai guru yang inspiratif, kita menyusun penjelasan secara kontekstual. Kerja inii menghajatkan lahirnya kreatifitas dalam diri kita. Jika semua itu kita lakukan terus menerus, maka kita sedang membiasakan diri untuk hidup dalam kreativitas dan penuh pengayaan, sebagai buah dari  karakter guru yang inspiratif, yang dilandasi oleh semangat kenabian.  Rasulullah sebagai mualim (guru) memberikan perhatian yang besar pada pengajaran. Beliau tidak sekadar mentransfer  pengetahuan kepada  para sahabat, tetapi menanamkan metode berpikir ilmiah.. Beliau juga memberikan apresiasi positif bagi mitra belajar. Sebagai contoh adalah sebuah  hadist  dari Abu Hurairah yang bertanya pada Rasulullah. ”Siapakah orang yang paling bahagia memperoleh syafaatmu di hari kiamat?”  Rasul kemudian  kemudian bersabda, ”Hai Abu Hurairah, sungguh saya telah menduga bahwa tidak ada seorang pun bertanya kepadaku tentang hadist ini mendahuluimu. Hal  itu karena saya mengetahui  kesungguhanmu dalam hadist. Orang yang paling bahagia dengan memperoleh  syafaatku pada hari kiamat  adalah orang yang mengucapkan  La  illaha illallah secara ikhlas dari hatinya atau dari dalam dirinya ” (HR. Bukhori).  Pada  hadis ini, Rasulullah sebelum menjawab pertanyaan Abu  Hurairah, rasul memberikan apresiasi positif terlebih dahulu. Sepatah pujian atau ungkapan penyemangat mampu mendongkrak kesungguhan  dan keseriusan. Pujian yang benar akan lebih banyak memberikan dorongan untuk mencapai puncak  prestasi. 

*)  Penulis, Guru Madrasah Aliyah Negeri Patas Buleleng
     E-mail : imronwahid@ymail.com



Referensi :
Dwi Budiyanto (2009)
Prophetic Learning, Yogyakarta, Penerbit
Pro-U Media.

Aidh Qorni,2006, La Tahzan, Jangan Bersedih!  Jakarta:
Penerbit Qisthi Press

Quraish Shihab, 2006, Tafsir Al-Misbah, Jakarta
Penerbit Lentera Hati

Syaikh Syafiyyur Rahman,2002, Sirah Nabawiyah, Jakarta
Penerbit Pustaka Al-Kautsar













Template by : kendhin x-template.blogspot.com